KEHUJAHAN HADIS AHAD DALAM PENETAPAN HUKUM ISLAM

Oleh: Abdul mustopa dan Muhammad fadhly ase

 

Hadis dari segi kehujahannya merupakan sumber hukum yang kedua setelah Al-Qur’an. Sedangkan dalam kaitannya dengan permasalahan hukum, terkadang hadis menjadi penetap atau penguat atas apa yang terkandung dalam Al-Qur‟an, memerinci atau menjelaskan yang mujmal, membatasi yang mutlak, mengkhususkan yang umum atau menetapkan suatu hukum yang jawabannya tidak ditegaskan dalam Al-Qur‟an.

Namun, walaupun demikian tidak semua hadis patut untuk dijadikan dalil. Karena hadis ada yang shahih dan ada juga yang dhaif. Begitu juga ada yang mutawatir dan ada juga yang ahad. Para ulama berbeda pendapat dalam berhujah dengan hadis ahad. Ada yang menerima secara mutlak, ada juga yang menerimanya dengan menetapkan syarat-syarat tertentu. Perbedaan pendapat ini tentu membawa pengaruh pula terhadap para ulama dalam menetapkan suatu hukum.

Hadis merupakan isim dari tahdits, yang berarti pembicaraan[1]. Hadis menurut bahasa (lughat) yaitu :

  1. Al-jadid (sesuatu yang baru), lawan kata al-qadim (sesuatu yang lama).
  2. Al-Khabar (berita), yaitu sesuatu yang dipercakapkandan dipindahkan dari seseorang kepada orang lain.
  3. Al-qarib (yang dekat, belum lama terjadi).[2]

Para muhaddisin berbeda pendapat dalam menafsirkan hadis. Perbedaan tersebut disebabkan karena terpengaruh oleh terbatas dan luasnya obyek peninjauuan mereka masing-masing. Dan perbedaan sifat peninjauan mereka itu melahirkan dua macam ta’rif hadis, yaitu ta’rif yang terbatas dan ta’rif yang luas.

Ta’rif hadis yang terbatas sebagaimana yang dikemukakan oleh jumhur Muhaddisin ialah:

مااضيف الي النبي صلّ الله عليه وسلّم قولا او فعلا اوتقريرا او نحوها

“hadis ialah sesuatu yang disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW. baik berupa perkataan, perbuatan, pernyataan (taqrir) dan sebagainya”.[3]

Ringkasnya menurut ta’rif yang muhaddisin sebutkan di atas, bahwa pengertian hadis itu hanya terbatas kepada segala sesuatu yang dima’rufkan kepada Nabi Muhammad saja, sedangkan segala sesuatu yang disandarkan kepada sahabat, tabiin atau tabiut tabiin tidak termasuk hadis.

Sedangkan ta’rif hadis yang luas, sebagaimana yang dikemukakan oleh sebagian muhaddisin tidak hanya mencakup sesuatu yang dima’rufkan kepada Nabi Muhammad saja tetapi juga disandarkan kepada sahabat dan tabiin pun disebut hadis. Dengan demikian hadis menurut ta’rif ini, meliputi segala berita yang marfu’, mauquf (disandarkan kepada tabiin) sebagaimana pendapat Muhammad Mahfudh at-Tirmisi dalam kitab Manhaj Dzawi an-Nazhar yang dikutip oleh Drs. Utang Ranuwijaya, MA. Sebagai berikut :

قيل ان الحديث لا يختص بالمرفوع اليه صلّ الله عليه وسلّم بالموقوف و هو ما اضيف الي الصحابي والمقطوع و هو ما اضيف للتابعين

“Dikatakan (dari ulama ahli Hadis), bahwa Hadis itu bukan hanya untuk sesuatu yang marfu’ (sesuatu yang disandarkan kepada Nabi SAW), melainkan bisa juga untuk sesuatu yang mauquf, yaitu sesuatu yang disandarkan kepada sahabat, (baik berupa perkataan atau lainnya), dan yang maqthu’, yaitu sesuatu yang disandarkan kepada tabiin.”[4]

Ulama ushul memberikan definisi yang terbatas, yaitu “segala perkataan Nabi SAW. yang dapat dijadikan dalil untuk menetapkan hukum syara.” Dari pengertian di atas dapat dipahami bahwa segala perkataan atau aqwal Nabi, yang tidak ada relevansinya dengan hukum atau tidak mengandung misi kerasulannya, seperti tentang cara berpakaian, berbicara, tidur, makan, minum, atau segala yang menyangkut hal ihwal Nabi, tidak termasuk hadis.[5]

Ulama ushul fiqih membatasi pengertian hadis hanya pada ucapan-ucapan Nabi Muhammad SAW yang berkaitan dengan hukum”; sedangkan bila mencakup perbuatan dan taqrir beliau yang berkaitan dengan hukum, maka ketiga hal ini mereka namai dengan sunnah. Pengertian hadis seperti yang dikemukakan oleh ulama ushul fiqih tersebut, dapat dikatakan sebagai bagian dari wahyu Allah Swt. yang tidak berbeda dari segi kewajiban menaatinya dan ketetapan-ketetapan hukum yang bersumber dari wahyu Al-Quran.[6]

Ahli ushul membedakan diri Muhammad sebagai rasul dan sebagai manusia biasa. Yang dikatakan hadis atau sunnah adalah sesuatu yang berkaitan dengan misi dan ajaran Allah yang diemban oleh Muhammad SAW. sebagai Rasulullah. Inipun, menurut mereka harus berupa ucapan dan perbuatan beliau serta ketetapan-ketetapannya. Sedangkan kebiasaan-kebiasaan, tata cara berpakaian, cara tidur dan sejenisnya merupakan kebiasaan manusia dan sifat kemanusiaan tidak dapat dikategorikan sebagai hadis. Dengan demikian, pengertian hadis menurut ahli ushul lebih sempit dibanding dengan hadis menurut ahli hadis.

  1. KLASIFIKASI HADIS

Berdasarkan dari segi kuantitasnya atau jumlah rawi, hadis dibagi menjadi dua bagian, yaitu :

  1. Hadis Mutawatir, yaitu :

Mutawatir menurut bahasa, berarti mutatabi’ yang (datang) berturut-turut, dengan tidak ada jaraknya. Sedankan menurut istilah dapat didefinisikan sebagai berikut:

ما رواه جمع تحيل العادة توطئهم على الكذب عن مثلهم من اول السنه الى منتهاه على عن ان لا يختل هذا الجمع فى اي طبقه من طبقات السند.

“Hadis yang diriwayatkan oleh sejumlah perawi yang secara tradisi tidak mungkin mereka sepakat untuk berdusta. (jumlah banyak itu) dari awal sanad sampai akhirnya dengan syarat jumlah itu tidak kurang pada setiap tingkatan sanadnya.”[7]

Hadis mutawatir dibagi menjadi dua bagian yaitu:

  1. Maknawi

Maknanya adalah hadis yang mutawatir maknanya, bukan lafadznya. Seperti hadis-hadis tentang mengangkat tangan pada waktu berdo’a.

من كذّب عليّ متعمدا فاليتبوأ مقعده من النّار

Barangsiapa yang berbohong dengan mengatasnamakan aku dengan sengaja, maka hendaklah dia mempersiapkan tempat duduknya dari api neraka.

  1. Lafdzi

Maknanya adalah hadis yang mutawatir maknanya, bukan lafadznya. Seperti hadis-hadis tentang mengangkat tangan pada waktu berdo’a.

  1. Hadis Ahad, yaitu :

Ahad jamak dari “Ahada”, menurut bahasa “al-wahid” yang berarti satu. Dengan demikian hadis ahad adalah Hadis yang diriwayatkan oleh satu orang. Sedangkan Hadis ahad menurut istilah dan banyak didefinisikan oleh para ulama adalah sebagai berikut:

مالم تبلغ نقلته فى الكثرة مبلغ الخبر المتواتر سواء آان المخبر واحدا او إثنين أو ثلاث أو أربعة أو خمسة أو الى غير ذالك من الأعداد التى لا تشعر بأنّ الخبر دخل بها فى خبرا المتواتر.

“Khabar yang jumlah perawinya tidak sampai jumlah perawi hadis mutawatir, baik perawinya itu satu, dua, tiga, empat, lima dan seterusnya yang tidak memberikan pengertian bahwa jumlah perawi tersebut tidak sampai kepada jumlah perawi hadis mutawatir.”[8]

Ada juga yang mendifinisikan hadis ahad secara singkat, yakni hadis yang tidak memenuhi syarat-syarat muawatir.[9]

Hadis Ahad secara garis besar oleh ulama-ulama hadis dibagi menjadi dua yaitu masyhur dan ghairu masyhur. Ghairu masyhur terbagi lagi menjadi dua bagian, yaitu aziz dan gharib. Hadis masyhur menurut bahasa “muntasyir” yang berarti sesuatu yang sudah tersebar, sudah popular. Sedangkan menurut ulama ahli Hadis, ialah :

ما له طرف محصورة بأآثر من إثنين ولم يبلغ حد التواتر

“Hadis yang mempunyai jalan yang terhingga, tetapi lebih dari dua jalan dan tidak sampai kepada batas hadis yang mutawatir.”[10]

Hadis ini dinamakan masyhur karena popularitasnya di masyarakat, walaupun tidak mempunyai sanad sama sekali, baik berstatus shahih atau dha’if. Sedangkan Hadis ghairu masyhur oleh ulama hadis digolongkan menjadi dua, antara lain:

  1. Hadis Aziz

Hadis aziz adalah:

ما رواه إثنان ولو آان فى طبقة واحدة ثم رواه بعد ذلك جماعه

“Hadis yang diriwayatkan oleh dua orang, walaupun dua orang rawi tersebut terdapat pada satu thabaqat saja, kemudian setelah itu, orang-orang pada meriwayatkannya.”[11]

Jadi Hadis aziz tidak hanya diriwayatkan oleh dua orang rawi pada setiap thabaqah, yakni sejak dari thabaqah pertama sampai terakhir harus terdiri dari dari dua oprang, tetapi selagi salah satu thabaqah (lapisannya) saja, didapati dua orang rawi, sudah bisa dikatakan hadis aziz.

  1. Hadis Gharib.

Hadis gharib dita’rifkan sebagai berikut:

ما انفرد بروايته شخص فى اى موضع وقع التفرد به من السند

“Hadis yang didalam sanadnya terdapat seorang yang menyendiri dalam meriwayatkan, dimana saja penyendirian dalam sanad itu terjadi.”[12]

Hadis gharib terbagi dua yaitu gharib mutlaj (fard) dan gharib nisby. Gharib mutlak yakni apabila penyendirian rawi dalam meriwayatkan hadis itu mengenai personalianya dan harus berpangkal ditempat ashlus sanad yaitu tabi’iy bukan sahabat.

Sedangkan gharib nisby ialah apabila penyendirian itu mengenai sifat sifat atau keadaan tertentu seorang rawi. Dan hal ini mempunyai beberapa kemungkinan, misalnya tentang sifat keadilan dan kedlabitan (ketsiqahan) rawi tertentu, istilah-istilah muhadditsin yang bersangkutan dengan hadis gharib, cara-cara untuk menetapkan kaghariban hadis (I’tibar).

 

 

  1. KEHUJAHAN HADIS MUTAWATIR

Hampir semua ulama sepakat terhadap otoritas hadis mutawatir sebagai sumber hukum Islam. Karena hadis dalam tingkatan ini memiliki validitas periwayatan yang sama dengan al-Qur’an, yaitu qath’iy al-wurūd, yang sangat kecil kemungkinan terjadinya konsensus untuk berbuat bohong oleh para perawinya.

Pengetahuan yang disampaikan pada hadis mutawatir, menurut Muhammad al-Shabbagh, harus bersifat dharuri yang diperoleh dari pengamatan pancaindra. Hal ini bertujuan agar berita yang disampaikan berdasarkan ilmu pasti bukan berdasarkan prasangka. Menurut ibn Taymiyah, orang yang telah meyakini ke mutawatiran suatu hadis, wajib mempercayai kebenaran dan mengamalkan sesuai dengan isi kanduangan nya. Sedangkan orang yangn belum mengetahui kemutawatirannya hendaklah mengikuti dan meyerahkan kepada orang yang telah menyepakati kemutawatiran hadis tersebut.[13]

Dan para ulama sepakat bahwa hadis Mutawatir wajib diamalkan dalam seluruh aspek, termasuk dalam bidang akidah.

  1. KEHUJAHAN HADIS AHAD
  2. Hukum Hadis Ahad

Para ulama berbeda pendapat mengenai hukum hadis ahad apakah memberikan faedah qath‘i (yakin) atau tidak. Setidaknya perbedaan pendapat ini terbagi menjadi 3 kelompok. Pertama, kelompok yang menyatakan bahwa hadis ahad tidak memberikan faedah yakin secara mutlak, baik ada qarinah maupun tidak ada qarinah. Kedua, kelompok yang menyatakan bahwa hadis ahad memberikan faedah yakin secara mutlak walaupun tanpa qarinah dan ketiga adalah kelompok yang menyatakan bahwa hadis ahad memberikan faedah yakin jika terdapat qarinah.[14]

Pendapat pertama adalah madzhabnya mayoritas ulama ushul dan ahli kalam, begitu pula dengan Imam Abu Hanifah, Imam Malik dan Imam asy-Syafi‘i. Pendapat yang kedua adalah pendapatnya Imam Ahmad dan Dawud azh-Zhahiri. Sedangkan pendapat ketiga kedua adalah pendapatnya Imam Ahmad dan Dawud azh-Zhahiri. Sedangkan pendapat ketiga adalah pendapatnya Imam Ibn ash-Shalah dan mayoritas ulama ushul, ahli kalam dan ahli hadis.[15]

  1. Berhujah dengan Hadis Ahad

Para ulama juga berbeda pendapat dalam penggunaan hadis ahad sebagai hujah. Mayoritas shahabat, tabiin, ulama-ulama hadis dan fiqih setelah mereka, juga ulama ushul berpendapat bahwa riwayat satu orang yang tsiqah bisa dijadikan hujah dalam menetapkan hukum Islam.

Adapun kelompok Qodariyah, Rafidhah dan sebagian ulama ahli zhahir berpendapat bahwa hadis ahad tidak bisa dijadikan hujah dalam menetapkan hukum Islam. Ada juga yang berpendapat bahwa hanya hadis ahad yang terdapat dalam kitab Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim saja yang bisa dijadikan sebagai hujah sedangkan di luar dari dua kitab tersebut maka tidak boleh dijadikan sebagai hujah.[16]

  1. Dalil-Dalil Kehujahan Hadis Ahad

Di antara dalil-dalil yang menguatkan akan kehujahan hadis ahad adalah sebagai berikut:

  1. Firman Allah Swt surat al-Hujurat [49] ayat 6

Berita dalam ayat di atas menggunakan redaksi nakirah sehingga mencakup semua berita termasuk berita yang disampaikan oleh Rasulullah Saw. Allah Swt telah mewajibkan untuk mengecek berita dalam ayat di atas jika yang menyampaikan berita tersebut adalah orang fasik. Akan tetapi, jika yang membawa berita bukanlah orang fasik, maka berita tersebut bisa diterima.[17]

  1. Hadis Nabi Saw yang diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi,

عن عبد الله بن مسعود أنّ النبي صلى الله عليه وسلم قال ” نضر الله امرأ سمع مقالتي فوعاها وحفظها وبلغها، فرب حامل فقه إلى من هو أفقه منه [18]

Artinya:

“Allah akan memberikan “Nadhrah” kepada seseorang yang telah mendengarkan ucapanku, lalu dia memahaminya, menghafalnya dan menyampaikannya, karena berapa banyak para pembawa fikih, ada yang lebih faham lagi darinya”

Dalam hadis tersebut di atas, Rasulullah Saw. mengajak kepada umatnya untuk mendengarkan sabdanya dan menjanjikan kebaikan kepada orang yang menyebarluaskan.

  1. Ijma Para Shahabat

Ijma para shahabat mengenai kehujahan hadis ahad terlihat dalam banyak kejadian atau peristiwa di mana ketika mereka mendapatkan suatu berita dari satu orang yang tsiqoh maka mereka langsung menerimanya dan mereka tidak lagi berijtihad dengan akalnya. Salah satu contohnya adalah apa yang diriwayatkan oleh Ibn Umar dalam kasus perpindahan kiblat dari Baitul Maqdis ke Ka‘bah. Setelah mendengar berita tersebut, para shahabat langsung merubah arah kiblat mereka padahal waktu itu yang membawa berita adalah satu orang yang tsiqah. Seandainya berita dari satu orang tidak bisa dijadikan hujah, tentu para shahabat tidak akan merubah arah kiblat ke Ka‘bah.[19]

  1. Kehujahan Hadis Ahad Menurut Imam Abu Hanifah

Madzhab Hanafi menetapkan tiga syarat dalam beramal dengan menggunakan hadis ahad. Ketiga syarat tersebut adalah:

  • Perawi tidak menyalahi riwayat yang ia sampaikan. Jika seorang perawi menyalahi apa yang ia riwayatkan, maka yang harus diamalkan adalah apa yang ia lakukan bukan apa yang ia riwayatkan. Karena apa yang ia lakukan berasal dari adanya nasakh dalam riwayat tersebut yang ia ketahui.[20] Oleh karena itu, madzhab Hanafi tidak mengamalkan hadis riwayat Abu Hurairah yang menyebutkan bahwa jilatan seekor anjing harus dibasuh sebanyak tujuh kali di mana yang pertama menggunakan tanah. Hal ini karena Abu Hurairah sebagai perawi hadis tersebut hanya membasuh sebanyak tiga kali saja sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam ad-Daruquthni.[21]
  • Kandungan hadis tidak berkaitan dengan hal yang sifatnya umum atau populer. Karena apa yang sifatnya umum atau popular harus diriwayatkan melalui jalur yang mutawatir. Jika hal tersebut diriwayatkan secara ahad, maka ia menunjukkan ketidakshahihan riwayat tersebut dan menimbulkan keragu-raguan.[22] Oleh karena itu, madzhab Hanafi tidak mengamalkan hadis mengangkat tangan ketika akan rukuk dalam shalat. Hal ini karena hadis tersebut termasuk hadis ahad padahal mengangkat tangan dalam shalat termasuk hal yang sifatnya umum dan populer karena ia dilakukan dalam shalat setiap hari. Selain itu, perawi hadis tersebut yaitu Ibn Umar menyalahi apa yang ia riwayatkan karena menurut Imam Mujahid, ia pernah shalat di belakang Ibnu Umar dan Ibnu Umar tidak mengangkat tangan kecuali dalam takbir yang pertama.[23]
  • Hadis tersebut tidak bertentangan dengan qiyas dan dasar-dasar syari‘at.[24]
  1. Kehujahan Hadis Ahad Menurut Imam Malik

Madzhab Maliki menetapkan syarat-syarat sebagai berikut dalam mengamalkan hadis ahad, yaitu:

  • Hadis tersebut tidak bertentangan dengan amal penduduk Madinah. Hal ini karena amal penduduk Madinah setara dengan hadis mutawatir karena mereka telah mengamalkannya dari para ulama sebelum mereka yang langsung berinteraksi dengan Rasulullah Saw. Oleh karena itu, madzhab Maliki menolak hadis khiyar almajlis. Hal tersebut karena penduduk Madinah tidak pernah menetapkan batasanbatasan tertentu dalam urusan khiyar al-majlis.[25]
  • Hadis tersebut tidak bertentangan dengan qiyas dan pokok-pokok syariah sama seperti yang dilakukan oleh Imam Abu Hanifah. Hal ini karena Imam Malik lebih mengedepankan qiyas dari pada hadis ahad karena qiyas merupakan hujah berdasarkan kesepakatan para shahabat. Oleh karena itu, berhujah dengan al-Qur‘an, Sunah dan Ijma lebih kuat dari pada berhujah dengan hadis ahad.[26]
  1. Kehujahan Hadis Ahad Menurut Imam asy-Syafi‟i

Imam asy-Syafi‘i menulis bab khusus dalam kitabnya yang berjudul ar-Risalah yaitu “Bab Khabar al-Ahad”. Ia menamai khabar ahad dengan khabar khashah.[27] Dalam bab tersebut, ia menyatakan bahwa khabar satu orang dari satu orang sampai kepada Rasulullah Saw bisa dijadikan hujah dan hadis ahad itu memberikan faedah zhan.[28]

Imam asy-Syafi‘i kemudian menetapkan syarat-syarat diterimanya diterimanya hadis ahad sebagai hujah. Syarat-syarat tersebut adalah:

  • Perawi adalah orang yang tsiqah
  • Dikenal sebagai orang yang jujur dalam periwayatan hadis
  • Memahami apa yang ia riwayatkan
  • Mengetahui makna-makna dari lafadz hadis
  • Meriwayatkan hadis dengan riwayat lafzhi bukan riwayat maknawi
  • Hafal jika hadis tersebut diriwayatkan berdasarkan hafalan dan tahu tulisannya jika diriwayatkan berdasarkan dari kitabnya.
  • Perawi harus terbebas dari sifat tadlis yaitu meriwayatkan hadis dari orang yang bertemu dengannya tapi tidak mendengar darinya atau meriwayatkan dari Nabi Saw tapi bertentangan dengan riwayat lain yang lebih tsiqah.[29]
  1. Kehujahan Hadis Ahad Menurut Imam Ahmad bin Hanbal

Imam Ahmad bin Hanbal tidak mensyaratkan dalam beramal dengan hadis ahad kecuali hadis tersebut sanadnya shahih sama seperti Imam asy-Syafi‘i. Namun ia berbeda dalam hal hadis mursal. Hadis mursal diamalkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal.[30]

Dari penjelasan di atas, jelas bahwa Imam Ahmad berpegang teguh kepada hadis baik itu mutawatir maupun ahad. Ia tidak membedakan keduanya sebagai hujah dalam Agama selama terpenuhi syarat-syarat keshahihan hadis. Imam Ibn al-Qayim mengatatakan bahwa Imam Ahmad bin Hanbal jika mendapatkan sebuah nash maka ia mewajibkan untuk mengamalkannya. Ia tidak menghiraukan nash lain yang bertentangan atau pendapat lain yang bertentangan dengannya.[31]

Oleh karena itu, Imam Ahmad tidak menghiraukan riwayat Umar tentang tayamum bagi orang yang junub karena ada hadis Ammar bin Yasir. Teks hadis tersebut adalah sebagai berikut:

عَنْ سَعِيدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبْزَى ، عَنْ أَبِيهِ ، قَالَ : جَاءَ رَجُلٌ إِلَى عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ ، فَقَالَ : إِنِّي أَجْنَبْتُ فَلَمْ أُصِبِ الْمَاءَ . فَقَالَ عَمَّارُ بْنُ يَاسِرٍ لِعُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ : أَمَا تَذْكُرُ أَنَّا كُنَّا فِي سَفَرٍ أَنَا وَأَنْتِ ، فَأَمَّا أَنْتَ فَلَمْ تُصَلِّ ، وَأَمَّا أَنَا فَتَمَعَّكْتُ فَصَلَّيْتُ ، فَذَكَرْتُ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” إِنَّمَا يَكْفِيكَ هَذَا ” ، فَضَرَبَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِكَفَّيْهِ الأَرْضَ ، وَنَفَخَ فِيهِمَا ، ثُمَّ مَسَحَ بِهِمَا وَجْهَهُ وَكَفَّيْهِ[32]

Artinya:

Seorang datang kepada Umar bin Alkhatthab r.a. dan bertanya: Saya berjanabat lalu tidak mendapat air. Jawab Umar: Jangan shalat. Maka Ammar r.a. berkata kepada Umar: Ya amiral mu’minin. Apakah anda tidak ingat ketika aku bersamamu dalam bepergian lalu kita berdua berjanabat, adapun anda tidak sem-bahyang, sedang aku berguling-guling di tanah lalu shalat, lalu hal itu saya ceritakan kepada Nabi saw. lalu Nabi saw. bersabda: Sesungguhnya cukup bagimu berbuat begini, lalu Nabi saw. memukul-kan kedua tapak tangan ke tanah, lalu ditiup kemudian diusapkan mukanya dan kedua tapak tangannya.

 

Setelah kita mengetahui perbedaan pendapat keempat imam di atas mengenai kehujahan hadis ahad, kita tahu bahwa perbedaan tersebut pada akhirnya berdampak kepada bedanya sikap mereka dalam mengistinbatkan hukum-hukum Islam. Bisa jadi di antara mereka ada yang menerima dan menjadikan hadis tersebut sebagai hujah sedangkan yang lain menolaknya dan tidak menjadikannya sebagai hujah. Contohnya adalah hadis tentang membasuh jilatan anjing sebanyak tujuh kali di mana yang pertama menggunakan tanah.

Hadis tersebut dijadikan hujah oleh Imam asy-Syafi‘i karena sanadnya shahih, akan tetapi tidak diamalkan oleh Imam Abu Hanifah karena sikap perawi hadis tersebut yaitu Abu Hurairah bertentangan dengan apa yang ia riwayatkan, karena Abu Hurairah hanya membasuh bekas jilatan anjing sebanyak tiga kali saja.

Begitu juga dengan hadis khiyar majlis. Hadis tersebut tidak diamalkan oleh Imam Malik karena bertentangan dengan perilaku penduduk Madinah. Sedangkan Imam Ahmad mengamalkannya karena sanad hadis tersebut shahih.

  1. Pendapat Ulama Tentang Pemakaian Hadis Ahad

Sebagian ulama menetapkan bahwa, hadis ahad diamalkan dalam segala bidang. Hal semacam dituturkan pula oleh Imam Ibnu Hazm, bahwa para ulama secara keseluruhan telah menjadikan hadis Ahad sebagai hujjah dalam agama, baik dalam masalah aqidah, syariah maupun akhlak.[33] Namun pendapat demikian ternyata tidak semua kelompok dan ulama sependapat.

Sebagian ulama menetapkan, bahwa hadis Ahad itu wajib diamalkan dalam urusan amaliah, ibadah dan hukum badan saja, tidak boleh dipakai dalam urusan aqidah. Syekh Muhammad Abduh dalam dalam kaitannya dengan hadis, beliau menolak hadis Ahad untuk dijadikan dalil dalam masalah aqidah.

Begitu pula kelompok Mu’tazilah, mereka menolak hadis Ahad sebagai hujjah dalam masalah aqidah. Bahkan ada kelompok yang bernama “Ahlul Quran” yang dipimpin Ghulam Ahmad Parwes, kelompok ini tidak mengakui hadis Nabi sebagai sumber ajaran Islam. Bukan hanya hadis Ahad yang ditolak, tetapi juga hadis Mutawatir.[34]

Sebagian pendapat lagi mengatakan bahwa hadis Ahad yang shahih dapat dijadikan hujjah untuk masalah aqidah, ulama pendukung pendapat itu menyatakan bahwa hadis Ahad dapat saja menjadi qath’i al-wurud.[35]

Demikian pendapat bebagai ulama tentang hadis Ahad, antara yang satu dengan yang lain saling berbeda. Bagi kita bisa menggunakan hadis untuk hujjah dalam agama, asal hadis tersebut memenuhi syarat-syarat shahih. Karena jika hadis-hadis Ahad tidak dapat dipakai sebagai dalil dalam masalah-masalah aqidah akan membawa konsekuensi menggeser sebagian besar ajaran Islam yang selama ini diimani oleh umat Islam. Misalnya, adanya syafaat Nabi s.a.w. di akherat, mu’jizat Nabi selain Al-Qur’an, sifat-sifat Malaikat, sifat-sifat Surga dan Neraka, siksa kubur dan lain sebagainya.

PENUTUP

Dari kajian di atas, bisa disimpulkan bahwa para ulama berbeda pendapat dalam menghukumi hadis ahad. Setidaknya perbedaan pendapat ini terbagi menjadi 3 kelompok. Pendapat pertama adalah madzhabnya mayoritas ulama ushul dan ahli kalam, begitu pula dengan Imam Abu Hanifah, Imam Malik dan Imam asy-Syafi‘i, menyatakan bahwa hadis ahad tidak memberikan faedah yakin secara mutlak, baik ada qarinah maupun tidak ada qarinah.

Pendapat yang kedua adalah pendapatnya Imam Ahmad dan Dawud azh-Zhahiri menyatakan bahwa hadis ahad memberikan faedah yakin secara mutlak walaupun tanpa qarinah dan pendapat ketiga adalah pendapatnya Imam Ibn ash-Shalah dan mayoritas ulama ushul, ahli kalam dan ahli hadis yang menyatakan bahwa hadis ahad memberikan faedah yakin jika terdapat qarinah.

Selain perbedaan pendapat di atas, para ulama juga berbeda pendapat dalam berhujah dengan hadis ahad. Perbedaan pendapat tersebut jelas terlihat di antara keempat ulama ahli fiqih yaitu Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam asy-Syafi‘i dan Imam Ahmad bin Hanbal. Perbedaan inilah yang pada akhirnya menyebabkan bedanya hasil penggalian atau pengistinbatan mereka terhadap hukum Islam sehingga hasil ijtihadnya pun berbeda.

Dalam masalah aqidah, ulama berbeda pendapat tentang kehujahan hadis Ahad. Untuk masalah-masalah non aqidah, hadis Ahad yang shahih disepakati sebagai hujjah.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Subhi As-Shalih, Membahas Ilmu-Ilmu Hadis, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1997)

Teungku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy, Seajarah dan Pengantar Ilmu Hadis, (Semarang: PT. Pustaka Rizki Putra, 1999)

Fatchur Rahman, Ikhtisar Mushthalahul Hadis, (Bandung: PT Al-Ma’arif, 1974)

Utang Ranuwijaya, Ilmu Hadis (Jakarta: Gaya Media Pratama, 1996)

Zainul Arifin, Studi Kitab Hadis, (Surabaya: al-Muna, 2010)

Quraisy Shihab, Membumikan Al-Quran, (Bandung: Mizan, 1994)

  1. Ajaj Al-Khotib, Pokok-Pokok Ilmu Hadis, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 1998)

Munzier Suparta, Utang Ranuwijaya, Ilmu Hadis, Cet, 2 (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1996)

Zarkasih, Studi Hadis, ( Pekanbaru: Suska Press, 2015)

Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali, al-Mustashfa Fi Ilm al-Ushul, (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah, 1413 H), juz 1

Ahmad Umar Hasyim, Qawaid Ushul al-Hadis, (Beirut: Dar al-Fikr, t.th)

Abu Zakaria Yahya bin Syaraf bin Mara an-Nawawi, al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin al-Hajjaj, juz 1

Ahmad Umar Hasyim, Qawaid Ushul al-Hadis, (Beirut: Dar al-Fikr, t.th)

At-Tirmidzi, Sunan at-Tirmidzi, (Beirut: Dar Ihya at-Turats al-‘Araby, t.th), Kitab al-Ilm, Bab Ma Ja’a Fi al-Hats ‘Ala Tabligh as-Sima’, juz 5

Ahmad Umar Hasyim, Qawaid Ushul al-Hadis

Wahbah az-Zuhaili, Ushul al-Fiqh al-Islami, (Beirut: Dar al-Fikr al-Mu’atsir, 2004 M)

Abu al-Hasan Ali bin Umar ad-Daruquthni, Sunan ad-Daruquthni, (Beirut: Dar al-Ma’rifah, 1386 H/ 1966 M), Juz 1

Muhammad Abu al-Fattah al-Bayanuni, Dirasat Fi al-Ikhtilafat al-Fiqhiyah, (al-Qahirah: Dar as-Salam, 1403 H/ 1983 M)

Abdul Karim Zaidan, al-Wajiz Fi Ushul al-Fiqh, (al-Qahirah: Dar at-Tauzi’ Wa an-Nasyr al-Islamiyah, 1993 M)

Abu Bakar Muhammad bin Ahmad bin Abi Sahl as-Sarkhasi, Ushul as-Sarkhasi, (t.t: t.p, t.th), juz 1

Muhammad bin Idris asy-Syafi’i, ar-Risalah, (Beirut: al-Maktabah al-‘Ilmiyah, t.th)

Muhammad bin Idris asy-Syafi’i, ar-Risalah

Muhammad bin Abi Bakr Ayub az-Zar’iy, I’lam al-Muwaqi’in ‘An Rab al-‘Alamin, (Beirut: Dar al-Jail, 1973 M), juz 1

Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Kitab at-Tayamum, Bab al-Mutayamim Hal Yanfuhu Fihima, juz 1

Ali Mustafa Yaqub, Kritik Hadis, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1995)

Muh. Zuhri, Hadis Nabi Telaah Historis dan metodologis, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1997)

Syuhudi Ismail, Pengantar Ilmu Hadis, (Bandung: Angkasa, 1991)

 

[1] Subhi As-Shalih, Membahas Ilmu-Ilmu Hadis, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1997), h. 15

[2] Teungku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy, Seajarah dan Pengantar Ilmu Hadis, (Semarang: PT. Pustaka Rizki Putra, 1999), h. 1

[3] Fatchur Rahman, Ikhtisar Mushthalahul Hadis, (Bandung: PT Al-Ma’arif, 1974), h. 20

[4] Utang Ranuwijaya, Ilmu Hadis (Jakarta: Gaya Media Pratama, 1996), h. 4

[5] Zainul Arifin, Studi Kitab Hadis, (Surabaya: al-Muna, 2010), h. 3

[6] Quraisy Shihab, Membumikan Al-Quran, (Bandung: Mizan, 1994), h. 21

[7] M. Ajaj Al-Khotib, Pokok-Pokok Ilmu Hadis, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 1998), h. 271

[8] Munzier Suparta, Utang Ranuwijaya, Ilmu Hadis, Cet, 2 (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1996), h. 92

[9] Rahman, Ikhtisar Musthalahul Hadis, h. 93

[10] Ranuwijaya, Ilmu Hadis, 138

[11] Rahman, Ikhtisar Musthalahul Hadis, h. 93

[12] Ibid., h. 97

[13] Zarkasih, Studi Hadis, ( Pekanbaru: Suska Press, 2015), h. 64

[14] Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali, al-Mustashfa Fi Ilm al-Ushul, (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah, 1413 H), juz 1, h. 145

[15] Ahmad Umar Hasyim, Qawaid Ushul al-Hadis, (Beirut: Dar al-Fikr, t.th), h. 154

[16] Abu Zakaria Yahya bin Syaraf bin Mara an-Nawawi, al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin al-Hajjaj, juz 1, h. 132

[17] Ahmad Umar Hasyim, Qawaid Ushul al-Hadis, (Beirut: Dar al-Fikr, t.th), h. 154

[18] At-Tirmidzi, Sunan at-Tirmidzi, (Beirut: Dar Ihya at-Turats al-‘Araby, t.th), Kitab al-Ilm, Bab Ma Ja’a Fi al-Hats ‘Ala Tabligh as-Sima’, juz 5, h. 33

[19] Ahmad Umar Hasyim, Qawaid Ushul al-Hadis, hal 154-155

[20] Wahbah az-Zuhaili, Ushul al-Fiqh al-Islami, (Beirut: Dar al-Fikr al-Mu’atsir, 2004 M), h. 470

[21] Abu al-Hasan Ali bin Umar ad-Daruquthni, Sunan ad-Daruquthni, (Beirut: Dar al-Ma’rifah, 1386 H/ 1966 M), Juz 1, h. 66

[22] Wahbah az-Zuhaili, Ushul al-Fiqh al-Islami, h. 470

[23] Muhammad Abu al-Fattah al-Bayanuni, Dirasat Fi al-Ikhtilafat al-Fiqhiyah, (al-Qahirah: Dar as-Salam, 1403 H/ 1983 M), h. 71

[24] Wahbah az-Zuhaili, Ushul al-Fiqh al-Islami, h. 470

[25] Abdul Karim Zaidan, al-Wajiz Fi Ushul al-Fiqh, (al-Qahirah: Dar at-Tauzi’ Wa an-Nasyr al-Islamiyah, 1993 M), h. 177.

[26] Abu Bakar Muhammad bin Ahmad bin Abi Sahl as-Sarkhasi, Ushul as-Sarkhasi, (t.t: t.p, t.th), juz 1, h. 339

[27] Muhammad bin Idris asy-Syafi’i, ar-Risalah, (Beirut: al-Maktabah al-‘Ilmiyah, t.th), h. 369

[28] Muhammad bin Idris asy-Syafi’i, ar-Risalah, h. 369

[29] Muhammad bin Idris asy-Syafi’i, ar-Risalah, h. 371

[30] Muhammad bin Idris asy-Syafi’i, ar-Risalah, h. 372

[31] Muhammad bin Abi Bakr Ayub az-Zar’iy, I’lam al-Muwaqi’in ‘An Rab al-‘Alamin, (Beirut: Dar al-Jail, 1973 M), juz 1, h. 30

[32] Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Kitab at-Tayamum, Bab al-Mutayamim Hal Yanfuhu Fihima, juz 1, h. 129

[33] Ali Mustafa Yaqub, Kritik Hadis, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1995), h. 134

[34] Muh. Zuhri, Hadis Nabi Telaah Historis dan metodologis, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1997), h. 17

[35] Syuhudi Ismail, Pengantar Ilmu Hadis, (Bandung: Angkasa, 1991), h. 87